BENTUK BENCANA

     Wilayah Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng/kulit bumi aktif yaitu lempeng Indo – Australia dibagian selatan, Lempeng Euro-Asia dibagian utara dan lempeng Pasifik dibagian Timur. Ketiga lempeng tersebut bergerak dan saling bertumbukan sehingga lempeng Indo-Ausrtalia menunjam ke bawah lempeng Auro-Asia. Penujam lempeng Indo – Australia yang bergerak ke Utara dengan lempeng Euro-Asia yang bergerak ke selatan menimbulkan jalur gempa bumi dan rangkaian gunung api aktif sepanjang pulau Sumatra, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, belok ke utara ke Maluku dan Sulawesi Utara sejajar dengan jalur penunjaman kedua lempeng tersebut.
Kabupaten Enrekang yang terletak dijantung Pulau Sulawesi, secara geografis tidak memiliki garis batas pantai, sehingga untuk ancaman resiko bencana tsunami tidak akan dirasakan masyarakat kabupaten Enrekang, Demikian halnya dengan masalah resiko bencana gunung merapi dan gempa bumi, tidak akan ditemui di kabupaten Enrekang karna wilayah kabupaten Enrekang tidak terdapat gunung merapi dan tidak berada pada jalur sesar aktif.
Adapun ancaman bencana yang mengancam wilayah kabupaten Enrekang dapat dibagi atas beberapa jenis, antara lain :

a. Ancaman Gerakan Tanah

Wilayah kabupaten Enrekang memiliki relief morfologi yang kasar dengan lereng-lereng yang terjal, yang secara umum sangat rawan terjadinya bencana pergerakan tanah. Disamping itu kondisi batuan dan pembentuk lereng gunung yang tidak kompak dan mudah mengalami degradasi umumnya lebih mudah terjadi gerakan tanah. Hal ini diperburuk dengan curah hujan yang tinggi.
Tingkat resiko bencana tanah longsor dipengaruhi pula oleh kondisi kerentanan berbagai unsure lainnya seperti factor kepadatan dan kerentanan penduduk, kondisi kerentanan bangunan dan infrastruktur, tingkat ekonomi dan kapasitas daerah secara umum.

b. Ancaman banjir

Berdasarkan sumber airnya, air yang berlebihan/banjir dapat dikatagorikan dalam 3 (tiga) kategori yaitu :
1. Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran system pengaliran air yang terdiri dari sungai alamiah, dan system drainase buatan manusia;
2. Banjir yang diakibatkan meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang surut maupun meningginya gelombang laut akibat badai;
3. Banjir akibat kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan, tanggul dan bangunan pengendali banjir.
Pada umumnya banjir di kabupaten Enrekang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi di atas normal, sehingga system pengaliran air yang terdiri dari sungai anak sungai alamiah serta system saluran drainase dan kanal penampung banjir buatan yang ada tidak mampu menampung akumulasi air hujan sehingga meluap.

Daya tampung sistem pengaliran air tidak selamanya sama, tetapi berubah akibat sedimentasi, penyempitan aliran sungai akibat fenomena alam dan ulah manusia, tersumbat sampah lainnya. Penggundulan hutan di daerah tangkapan air hujan juga menyebabkan peningkatan debit banjir karena pasokan air yang masuk ke dalam system aliran menjadi tinggi dan melampaui kapasitas pengaliran. Berkurangnya daerah resapan air juga berkontribusi pada peningkatan debit banjir, karena jika terjadi curah hujan tinggi, sebagain besar air akan menjadi limpasan air permukaan yang langsung masuk kedalam system pengaliran air sehingga kapasitasnya terlampaui dan terjadi banjir.

c. Ancaman Kekeringan

Selain ancaman banjir, ancaman alam yang bersifat hidro-meteorologis lain yang sering menimpa kabupaten Enrekang adalah kekeringan. Kekeringan diartikan sebagai berkurangnya persediaan air sampai dibawah normal yang bersifat sementara, baik diatmosfir maupun dipermukaan tanah. Penyebab kekeringan adalah menurunnya curah hujan pada periode yang lama yang disebabkan oleh interaksi atmosfir dan laut serta akibat ketidakteraturan suhu permukaan laut seperti yang ditimbulkan oleh phenomena El Nino. Kekeringan mengakibatkan tidak tercukupinya kebutuhan air bagi kegiatan manusia.
Kekeringan akan membawa akibat serius pada pola tanam, pola pengairan, pola pengoperasian irigasi serta pengelolaan sumber daya air permukaan lainnya. Gangguan pola tanam yang serius pada gilirannya akan mengancam keamanan pangan masyarakat kabupaten Enrekang

d. Ancaman kebakaran hutan dan lahan

Terkait dengan ancaman kekeringan, kabupaten Enrekang juga menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sebagian besar diakibatkan oleh ulah aktivitas manusia dalam rangka membuka lahan, baik untuk usaha pertanian, kehutanan maupun perkebunan dan ditunjang oleh fenomena alam El Nino Southern Oscillation (ELSO) yang menimbulkan kekeringan. Kebakaran hutan menimbulkan berbagai dampak kesehatan dan social ekonomi. Asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dapat menimbulkan gangguan pernafasan (ispa) dan gangguan penglihatan yang dapat mengancam keselamatan transportasi.

e. Ancaman Erosi

Erosi sebagai suatu bentuk ancaman alam, adalah perubahan bentuk tanah atau batuan yang dapat disebabkan oleh pengaruh air, angin, pengaruh gaya berat atau organism hidup maupun akibat aktivitas manusia. Proses erosi dapat menyebabkan penitipisan lapisan tanah dan penurunan tingkat kesuburan, karena butiran tanah yang mengandung unsur hara terangkut limpasan permukaan dan diendapkan ditempat lain. Erosi juga merusak daerah-daerah aliran sungai dan menimbulkan pendangkalan palung sungai serta bendungan-bendungan yang ada, dan dengan demikian mempengaruhi fungsi dan usia dari bangunan air tersebut. Erosi pada tebing sungai akibat aliran air sungai yang liar dan perpindah-pindah yang disebabkan pendangkalan sungai akibat sedimentasi, dapat menghancurkan lahan pertanian dan perkebunan termasuk permukiman masyarakat yang berada disekitar bantaran sungai tersebut, sebagai contoh kasus adalah kerusakan daerah permukiman dan perkebunan masyarakat yang berada didaerah DAS Saddang, Mataallo, Malua yang ada di kabupaten Enrekang.

f. Ancaman kebakaran gedung, permukiman dan Hutan

Kebakaran gedung atau rumah di permukiman masyarakat sangat sering terjadi. Baik itu dusebabkan oleh karena hubungan arus pendek listrik ( kosleting) atau akibat lainnya. Ancaman ini muncul akibat kecerobohan manusia dalam pemasangan instalasi kelistrikan, dan gas dalam proses pembangunan tempat tinggal/permukiman atau perumahan yang tidak mengikuti standar keamanan gedung yang berlaku. Korsleting listrik, kompor meledak, api lilin/ lampu minyak yang menyambar kasur, merupakan penyebab umum kebakaran gedung dan permukiman di kabupaten Enrekang. Pembukaan lahan tertanian dan perkebunan masyarakat dengan cara pembakaran, sering tidak terkontrol sehingga menyebabkan terjadinya penyebaran dan perluasan kebakaran yang mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan. Disamping itu efek dari asap dari hasil pembakaran tersebut menyebabkan pencemaran udara dan akibat fatal lainnya menimbulkan masalah bagi kesehatan dengan terjadinya infeksi pada saluran pernafasan (ISPA) pada mahluk hidup khususnya masyarakat yang bermukim disekitar lokasi tersebit.

g. Ancaman Cuaca Ekstrim

Cuaca ekstrim seperti angin putting beliung adalah fenomena alam yang paling sering terjadi dikabupaten Enrekang sebagai dampak dari perubahan musim pancaroba atau peralihan dari musin hujan ke musim kemarau maupun dari musim kemarau kemusim hujan. Tingginya kecepatan angin putting beliung dapat menimbulkan kerusakan dalam bentuk rubuhnya atap bangunan ringan, baliho, tiang listrik, pohon-pohon.

h. Ancaman Kegagalan Teknologi

Resiko bencana akibat kegagalan teknologi turut menjadi ancaman bagi masyarakat dikabupaten Enrekang. Kegagalan teknologi dapat diakibatkan kesalahan desain, pengoperasian atau kelalaian manusia dalam menggunakan teknologi. Kejadian ini dapat menimbulkan dampak berupa kebakaran, pencemaran bahan kimia berbahaya, atau bahan radio aktif, kecelakaan industri, atau kecelakaan transportasi yang menimbulkan korban jiwa serta kerugian harta benda.
Ancaman resiko bencana kegagalan teknologi sudah harus mendapat perhatian pemerintah kabupaten Enrekang, mengingat perkembangan pembangunan semakin pesat, apalagi dengan rencana pembangunan beberapa pembangkit listrik tenaga air (PLTMH, PLTA) dalam wilayah kabupaten Enrekang yang akan lebih memacu perkembangan daerah dan termasuk juga peningkatan resiko terjadinya bencana billa tidak dikelola dan dimanfaatkan dengan baik. Disamping itu ancaman terhadap penggunaan bahan kimia yang berlebihan untuk pertanian, seperti pestisida dalam jangka panjang memberikan ancaman bagi kesehatan masyarakat yg mengkonsumsi sayuran dan air minum yang tercemar dengan pestisida

i. Ancaman Epidemi dan Wabah penyakit

Epidemi dan wabah penyakit adalah ancaman bencana yang potensial terjadi dalam wilayah kabupaten Enrekang. Beberapa contoh kejadian yang pernah terjadi seperti wabah diaera di dusun Bibang Desa Bolang Kecamatan Baraka, dan desa Rossoan kecamatan Enrekang yang menelan korban jiwa beberapa orang meninggal dunia. Kasus penyakit kaki gajah, dan wabah flu burung (H5N1) yang pernah juga merebak dalam wilayah kabupaten Enrekang.
Ancaman Epidemi dan wabah penyakit ini akan menjadi ancaman serius mengingat penduduk kabupaten Enrekang masih ada yang berada dibawah garis kemiskinan dan tidak dapat hidup sehat dan hiegenis secara memadai. Berjangkitnya penyakit dapat mengancam manusia maupun hewan ternak dan berdampak serius pada kematian

j. Ancaman Konflik Sosial
Kabupaten Enrekang memiliki beberapa etnis dengan bahasa dan budaya kebutuhan yang beraneka ragam pula. Keragaman ini menjadi kekayaan tersendiri, tetapi disisi lain terkadang menimbulkan gesekan dan ketegangan-ketegangan social, yang bila tidak dikelola dengan baik dapat menjelma menjadi konflik social.
Perbedaan kepercayaan dan perbedaan tingkat kesejahteraan yang mencolok dapat dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk menyulut konflik social, seperti di Ambon, Poso dan dibeberapa tempat lainnya. Pemilihan kepala daerah dan anggota legislative juga berpotensi menimbulkan konflik dan kerusuhan antar kelompok pendukung calon tertentu, yang dapat berlangsung lama dan berkepanjangan.
Konflik social yang diakibatkan ulah manusia dapat berinteraksi dengan satu sama lebih kejadian bencana alam seperti banjir, longsor atau kebakaran hutan/permukiman. Situasi ini dikenal sebagai kedaruratan kompleks. Konflik social dan kedaruratan kompleks memerlukan penanganan yang segera dan seksama. Keterlambatan dalam penanganan dapat berakibat pada eskalasi tingkat intensitas dan keluasan konflik. Dalam kedua situasi ini perhatian khusus perlu diberikan pada kelompok-kelompok minoritas yang biasanya sangat terpengaruh oleh situasi yang kurang menguntungkan.
Rencana Strategis BPBD kabupaten Enrekang perlu mengulas kerawanan sosial dan kedaruratan kompleks dengan mengkaji potensi-potensi kerawanan sosial apa saja yang dapat timbul di kabupaten Enrekang, termasuk kejadian-kejadian konflik di masa lampau.

One comment on “BENTUK BENCANA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s